Aku adalah “seekor burung” yang lain daripada yang lainnya. Tak seperti burung lain yang memiliki sayap, sayapku patah sejak cangkang pembungkusku retak. Kupikir setiap burung memiliki sayap yang sama, tapi ternyata hanya sayapku saja yang tak bisa memeluk angin.
Sejak
lahir hidupku dua kali lipat lebih berat daripada burung-burung lain, mulai
dari susuah mencari makan sampai menanggung cemoohan tiada henti. “Dasar burung
tidak bisa terbang.” begitu katanya. Bukan hal yang mudah hidup dengan sayap
yang patah, apalagi jika engkau adalah pengangum “langit”.
Langit Adalah Jiwaku
Tak
terasa semenjak aku melihatmu wahai langit, engkau adalah hal terindah yang pernahku
lihat. Wajahmu yang syahdu yang dihiasi gumpalan awan lembut bahkan lebih indah
daripada musim semi. Engkau selalu tersenyum pada siapa saja yang menatapmu,
membuatnya terpaku lalu tenggelam dalam buayan surga. Dan sejak saat itu,
duniaku bukan lagi duniaku melainkan duniamu. Bagiku, engkau adalah jiwaku.
Sosokmu Adalah Penyejuk Hati Di
Padang Tandus
Taukah
kau wahai langit, engkau adalah hal terhebat yang pernah kulihat. Sosokmu
adalah penyejuk hati dipadang tandus, yang membuatku percaya bahwa hidup harus
terus berlanjut. Lewat sosokmu aku belajar bahwa sebesar apapun badai yang kau
hadapi engkau selalu lebih besar daripada bedai tersebut. Dan aku yakin bahwa
hatiku juga sama, akan selalu lebih besar daripada cemoohan yang datang
kepadaku. Wahai langit, kau adalah inspirasiku.
Tetapi, Kita Hidup dalam Asumsi dan
Persepsi Kita Sendiri
Orang
bijak bilang bahwa kita ini hidup dalam asumsi dan presepsi kita masing-masing.
Dan aku rasa itu benar, selama ini aku hidup dalam asumsi dan persepsiku
sendiri. Aku sadar bahwa aku hanya subjek kecil yang bahkan hampir tidak
terlihat keberadaannya. Seekor burung kecil tak berdaya yang bahkan tidak
pantas disebut sebagai burung. Jika ada orang yang bertanya siapa burung paling
bodoh di dunia, maka jawabannya adalah aku. Ya, aku. Aku adalah burung paling
bodoh karena aku telah mendambamu wahai langit. Bagaimana mungkin seekor burung
cacat sepertiku mendambakan langit yang begitu tinggi?!. Aku mungkin
membutuhkan cermin yang begitu besar. Selama ini aku menganggap bahwa aku
selalu bisa menggapaimu kapan saja, tetapi pada kenyataanya itu hanya
imajinasiku saja.
Berkali-kali
aku mencoba hasilnya tetap sama, aku tak pernah bisa menggapaimu. Seberapa
keras atau seberapa cepatpun ku kepakan sayapku, kecepatannya tak pernah cukup
untuk membuatku terbang menujumu. Begitulah kenyataannya. Kita hidup dalam
asumsi dan persepsi kita sendiri.
Meskipun Begitu Aku Tidak Pernah
Menyesal
Wahai
langit kau tahu, meskipun aku tidak pernah bisa menggapaimu, aku tidak pernah
menyesal mendambamu. Karena berkatmu aku sadar bahwa yang bisa membuat kita
terbang bukanlah sayap, melainkan hati. Hati yang tulus yang bisa menerima
apapun keadaan kita dan hati yang luas yang bisa menampung semua angan dan
cita-cita. Terima
kasih wahai langit, terima kasih.





0 komentar
Posting Komentar